Hari Terakhir AKGTK Madrasah 2026, MTsN 2 Rejang Lebong Dorong Guru Perkuat Kompetensi Pedagogik dan Profesional
Rejang Lebong, (Humas)— Pelaksanaan Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK) Madrasah Tahun 2026 memasuki hari terakhir pada Jumat (9/10). Pada sesi penutup ini, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menjadi bidang ujian yang diikuti oleh empat guru MTsN 2 Rejang Lebong, yakni Ade Sonnie Aglesia, M.Pd., Yesi Elmasari, S.Pd., Gr., Azizah, S.Pd., dan Wahyu Mashyuri Permana, S.Pd.
Dalam pelaksanaan asesmen tersebut, setiap peserta dihadapkan pada 80 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 120 menit. Soal terdiri atas 20 soal kompetensi pedagogik, 10 soal moderasi beragama, dan 50 soal kompetensi profesional. Komposisi ini mencakup aspek kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, memahami nilai-nilai moderasi beragama, serta menguasai materi sesuai bidang keahliannya.
Karakter soal yang disajikan menuntut peserta untuk melakukan analisis terhadap persoalan yang kontekstual. Dengan demikian, guru tidak cukup hanya mengandalkan hafalan konsep, tetapi juga perlu memahami substansi materi, menghubungkan pengetahuan dengan situasi nyata, serta menentukan jawaban berdasarkan penalaran yang tepat.
Bagi guru IPA, kemampuan analitis dan kontekstual memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran yang mendorong murid memahami fenomena alam melalui pengamatan, penalaran ilmiah, dan pemecahan masalah. Kompetensi tersebut juga diperlukan agar guru mampu merancang pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menyampaikan teori.
Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Wawan Herianto, S.Pd., MM., menyampaikan bahwa asesmen kompetensi perlu dimaknai sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kemampuan sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu dikembangkan oleh guru.
“Guru memiliki tanggung jawab untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembelajaran. Ketika soal menuntut analisis dan pemahaman kontekstual, guru perlu menunjukkan kemampuan menghubungkan konsep dengan permasalahan nyata. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pembelajaran yang mendorong murid untuk berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Menurut Wawan, hasil asesmen akan lebih bermakna apabila ditindaklanjuti melalui refleksi dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan. Guru diharapkan tidak berhenti pada pencapaian hasil ujian, tetapi menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan untuk mengevaluasi praktik pembelajaran di kelas.
“Jika ditemukan aspek kompetensi yang masih perlu diperkuat, hal itu hendaknya menjadi dasar untuk menyusun langkah perbaikan. Guru dapat meningkatkan kapasitas melalui pelatihan, diskusi dengan rekan sejawat, komunitas belajar, serta pengembangan perangkat dan strategi pembelajaran yang lebih kontekstual,” tambahnya.
Pelaksanaan AKGTK juga mengingatkan bahwa kompetensi guru tidak berdiri pada penguasaan materi semata. Kemampuan pedagogik diperlukan agar materi dapat disampaikan sesuai kebutuhan dan karakteristik murid, sedangkan moderasi beragama menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang menghargai perbedaan, mengedepankan sikap adil, dan menjaga keharmonisan.
Dengan berakhirnya pelaksanaan AKGTK Madrasah Tahun 2026 pada hari ini, para guru diharapkan dapat menjadikan asesmen tersebut sebagai momentum untuk memperkuat profesionalisme. Hasil asesmen dan refleksi terhadap pengalaman ujian dapat dimanfaatkan sebagai pijakan untuk menentukan kebutuhan pengembangan diri dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
MTsN 2 Rejang Lebong terus mendorong penguatan kompetensi guru agar proses pembelajaran semakin berkualitas, adaptif, dan relevan dengan tantangan pendidikan. Pada akhirnya, peningkatan kompetensi guru diharapkan berdampak nyata terhadap pengalaman belajar, pemahaman, dan perkembangan murid di madrasah.
(Ririn/Edwinsya)Hastag : #kemenagrejanglebong #mtsn2rejanglebong
From : MTsN 2



.jpeg)