Tak Hanya di Pondok, Santri Darul Maarif NU Perkuat Baca Tulis Al-Qur’an di Madrasah
REJANG LEBONG, (Humas) — Pemahaman baca tulis Al-Qur’an (BTQ) bagi santri Pondok Pesantren Darul Ma’arif NU Rejang Lebong terus diperkuat melalui pembiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan pada waktu pembelajaran di lingkungan pondok pesantren, tetapi juga terus dilanjutkan di Madrasah Aliyah (MA) Darul Ma’arif NU Rejang Lebong.
Hal tersebut terlihat pada kegiatan BTQ yang dilaksanakan pada pagi ini (08/09). Para santri mengikuti pembinaan secara berkelompok dengan pendampingan langsung dari guru yang telah ditugaskan untuk memberikan bimbingan sesuai dengan kemampuan masing-masing santri.
Kegiatan dilakukan dengan membentuk beberapa kelompok sehingga pembinaan dapat berlangsung lebih terarah. Guru memberikan perhatian terhadap kemampuan santri dalam membaca huruf Al-Qur’an, mengenali dan menuliskan huruf dengan benar, membaca sesuai kaidah, serta memperbaiki bacaan secara bertahap.
Pembinaan secara berkelompok juga memberikan kesempatan kepada guru untuk melihat perkembangan masing-masing santri. Santri yang masih membutuhkan pendampingan dapat memperoleh bimbingan lebih intensif, sementara santri yang sudah memiliki kemampuan lebih baik dapat terus meningkatkan kelancaran dan ketepatan bacaannya.
Kepala MA Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, Dedi Priyanto, S.E., M.E.Gr., menyampaikan bahwa pembelajaran Al-Qur’an perlu dilakukan secara berkesinambungan, sehingga pemahaman santri tidak hanya diperoleh pada waktu kegiatan kepesantrenan, tetapi juga diperkuat melalui pendidikan formal di madrasah.
“Baca tulis Al-Qur’an tidak cukup hanya dilakukan pada waktu kegiatan pondok pesantren. Di madrasah juga harus terus kita isi dan perkuat, agar kemampuan santri dalam membaca maupun menulis Al-Qur’an semakin baik dan pemahamannya dapat lebih sempurna,” ujarnya.
Menurutnya, pembiasaan yang dilakukan secara rutin akan membantu santri semakin terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an. Karena itu, kegiatan BTQ tidak hanya diarahkan untuk mengejar kemampuan membaca, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter religius santri dalam keseharian.
“Kami ingin kemampuan baca tulis Al-Qur’an santri benar-benar diperhatikan. Karena itu, guru melakukan pembinaan secara langsung dan dibentuk dalam kelompok-kelompok agar pendampingannya lebih maksimal. Harapannya, setiap santri mendapatkan perhatian sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya,” tambahnya.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk sinergi antara pendidikan kepesantrenan dan pendidikan madrasah di lingkungan Darul Ma’arif NU. Jika pembelajaran di pondok memberikan penguatan keagamaan melalui berbagai kegiatan kepesantrenan, maka madrasah turut memastikan kemampuan dasar keagamaan santri tetap mendapatkan ruang pembinaan dalam proses pendidikan formal.
Dengan pembinaan yang dilakukan secara rutin dan bertahap, santri diharapkan tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga semakin memahami dasar-dasar penulisannya serta memiliki keberanian dan ketepatan dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Bagi Darul Ma’arif NU, membaca Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian penting dari perjalanan pendidikan santri. Dari madrasah dan pesantren, kemampuan tersebut terus diasah agar menjadi bekal yang melekat dalam kehidupan santri.
(De/Edwinsya)Hastag : #MADarulMaarifNU #DarulMaarifNU #SantriDarulMaarif #BacaTulisAlQuran #BTQ #Kemenag #RejangLebong
From : MA Darul Maarif NU



.jpg)