Cari Lokasi Sumur, Kepala MTsN 2 RL Gunakan Cara Tradisional dengan Perantara Buah Kelapa
Rejang Lebong, (Humas) — Upaya memenuhi kebutuhan air untuk warga madrasah terus dilakukan MTsN 2 Rejang Lebong. Pada Rabu (30/9), Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Wawan Herianto, S.Pd., MM, tampak meninjau sejumlah titik di lingkungan madrasah untuk menentukan lokasi yang akan digunakan dalam pembangunan sumur.
Menariknya, dalam proses pencarian titik tersebut digunakan cara tradisional dengan buah kelapa sebagai alat perantara. Cara seperti ini dikenal dalam praktik masyarakat sebagai dowsing atau divining, yaitu metode tradisional yang dipercaya sebagian masyarakat dapat membantu menentukan lokasi sumber air bawah tanah. USGS mencatat bahwa praktik dowsing telah digunakan selama berabad-abad dengan berbagai alat, meskipun bukti ilmiah yang mendukung kemampuannya untuk menemukan air tanah secara akurat masih tidak meyakinkan.
Penggunaan buah kelapa dalam pencarian sumber air juga pernah menjadi objek kajian tersendiri. Sebuah kajian yang dipresentasikan dalam bidang eksplorasi geosains membahas penggunaan kelapa sebagai alat water divining dan menyimpulkan bahwa respons gerakan kelapa sangat dipengaruhi oleh praktisi, sehingga metode tersebut tidak dapat diposisikan sebagai metode ilmiah yang terbukti untuk menentukan sumber air.
Dalam konteks pembangunan sumur di MTsN 2 Rejang Lebong, cara tradisional tersebut menjadi bagian dari ikhtiar awal dalam menentukan lokasi yang dianggap potensial. Penentuan lokasi sumur tetap perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan dan aspek teknis lainnya agar pembangunan dapat memberikan manfaat secara optimal.
Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Wawan Herianto, S.Pd., MM, menyampaikan bahwa rencana pembangunan sumur dilakukan karena keberadaan sumber air sangat dibutuhkan untuk menunjang berbagai aktivitas warga madrasah.
“Kita berusaha mencari titik yang paling memungkinkan untuk pembangunan sumur. Cara yang digunakan ini merupakan salah satu ikhtiar untuk menentukan lokasi awal. Yang paling penting adalah bagaimana nantinya sumur tersebut dapat memberikan manfaat bagi seluruh warga madrasah,” ujar Wawan.
Rencana pembangunan sumur tersebut juga memiliki nilai kebersamaan yang kuat. Dana pembangunan tidak bersumber dari anggaran madrasah, melainkan berasal dari sumbangan seluruh dewan guru dan staf MTsN 2 Rejang Lebong. Swadaya tersebut menjadi bentuk kepedulian bersama terhadap kebutuhan fasilitas yang dapat digunakan oleh seluruh warga madrasah.
Wawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru dan staf yang turut berkontribusi dalam rencana pembangunan tersebut. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi modal penting dalam menghadirkan fasilitas yang bermanfaat bagi kepentingan bersama.
“Ini adalah bentuk kebersamaan. Ketika kebutuhan madrasah kita rasakan bersama, maka kita juga berusaha mencarikan solusi bersama. Mudah-mudahan pembangunan sumur ini nantinya dapat memberikan manfaat bagi guru, staf, dan murid,” lanjutnya.
Keberadaan sumur diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air untuk berbagai aktivitas di lingkungan madrasah, termasuk kebutuhan kebersihan, sanitasi, dan kegiatan warga madrasah lainnya.
Semangat swadaya yang ditunjukkan guru dan staf menjadi gambaran bahwa pengembangan fasilitas madrasah tidak hanya bertumpu pada satu pihak, tetapi dapat dibangun melalui kepedulian dan gotong royong seluruh warga madrasah.
Melalui rencana pembangunan sumur ini, MTsN 2 Rejang Lebong tidak hanya berupaya menghadirkan fasilitas yang dibutuhkan, tetapi juga menumbuhkan budaya kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan madrasah.
(Ririn/Edwinsya)Hastag : #kemenagrejanglebong #mtsn2rejanglebong
From : MTsN 2


.jpg)
