Dari Pengalaman Visitasi, Kepala MA Darul Ma’arif NU Tata Strategi Menuju Madrasah Berkualitas
Rejang Lebong, (Humas) — Kesempatan mengikuti secara langsung visitasi lapangan akreditasi program studi di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu menjadi pengalaman berharga bagi Kepala Madrasah Aliyah Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, Dedi Priyanto, S.E., M.E.Gr (30/09).
Kehadiran Dedi Priyanto dalam kegiatan tersebut tidak hanya sebagai bagian dari proses visitasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk belajar, mengamati, dan mempersiapkan madrasah menghadapi proses akreditasi yang direncanakan menjadi agenda penting pada tahun mendatang.
Maklum, MA Darul Ma’arif NU Rejang Lebong yang masih relatif baru pada tahun ini belum masuk dalam proses akreditasi. Kondisi tersebut justru menjadi ruang persiapan bagi madrasah untuk membangun kesiapan sejak lebih awal, sehingga ketika tiba waktunya, seluruh unsur madrasah telah memiliki pemahaman dan dokumen pendukung yang lebih matang.
Dalam visitasi tersebut, Dedi Priyanto juga mendapatkan kesempatan untuk berperan sebagai responden dalam sesi wawancara. Ia mengikuti proses tanya jawab yang menjadi bagian dari rangkaian visitasi lapangan dan melihat secara langsung bagaimana asesor menggali informasi mengenai penyelenggaraan pendidikan, pengelolaan program, pelayanan, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan mutu lembaga.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran tersendiri. Setiap proses yang dilihat dan dijalani dicatat sebagai bahan untuk memahami bagaimana sebuah lembaga mempersiapkan diri menghadapi akreditasi.
“Kita hadir bukan hanya untuk mengikuti kegiatan, tetapi juga mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya. Karena tahun ini MA Darul Ma’arif NU belum masuk proses akreditasi, maka momentum seperti ini sangat berharga untuk menjadi bekal persiapan kita menghadapi akreditasi nantinya,” ungkap Dedi Priyanto.
Menurutnya, melihat proses visitasi secara langsung memberikan gambaran yang jauh lebih nyata dibandingkan hanya memahami akreditasi melalui dokumen atau penjelasan. Ada banyak hal yang dapat dipelajari, mulai dari kesiapan data, penyajian informasi, dokumen pendukung, keterlibatan warga lembaga, hingga bagaimana setiap program yang dilaksanakan dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.
Pengalaman sebagai responden wawancara juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Dedi dapat merasakan secara langsung bagaimana proses penggalian informasi dilakukan dan bagaimana berbagai kegiatan lembaga perlu dipahami secara menyeluruh oleh setiap unsur yang terlibat.
Bagi MA Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, pengalaman ini menjadi investasi pengetahuan untuk mempersiapkan masa depan madrasah. Target akreditasi bukan hanya dipersiapkan ketika jadwal sudah ditetapkan, tetapi mulai dibangun dari sekarang melalui pembenahan administrasi, penguatan program, peningkatan mutu pembelajaran, pengelolaan data, serta keterlibatan seluruh warga madrasah.
Dari ruang visitasi kampus, sebuah pelajaran dibawa pulang ke madrasah: akreditasi bukan sekadar menyiapkan dokumen ketika waktunya tiba, tetapi membangun budaya mutu sejak jauh-jauh hari.
Kehadiran Kepala MA Darul Ma’arif NU dalam visitasi tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan madrasah yang sedang terus berkembang. Pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan secara bertahap dalam pengelolaan madrasah, sehingga ketika proses akreditasi tiba, MA Darul Ma’arif NU telah memiliki kesiapan yang lebih baik.
Belajar dari kampus hari ini, menyiapkan madrasah untuk esok hari. Dari pengalaman visitasi, MA Darul Ma’arif NU Rejang Lebong terus menata langkah menuju madrasah yang semakin siap, tertib, bermutu, dan berkelanjutan.
(De/Edwinsya)Hastag : #MADarulMaarifNU #AkreditasiMadrasah #Kemenag #PendidikanBermutu
From : MA Darul Maarif NU


.jpg)
