Kedelai Menjadi Tempe, Santri MA Darul Maarif NU Tak Hanya Membuat, tetapi Meneliti Kandungannya
Rejang Lebong (Humas) – Pembelajaran di Madrasah Aliyah Darul Ma'arif NU Rejang Lebong kembali membawa santri lebih dekat dengan praktik nyata. Setelah melalui proses pembuatan tempe, para santri tidak berhenti pada tahap menghasilkan produk, tetapi melanjutkan kegiatan dengan mengamati dan mempelajari kandungan yang terdapat pada tempe hasil praktik mereka (30/9).
Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang menarik karena santri dapat melihat secara langsung perubahan kedelai melalui proses fermentasi hingga menjadi tempe. Dari bahan pangan yang sederhana, santri diajak memahami bagaimana proses pengolahan dapat menghasilkan produk pangan yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.
Dalam praktik tersebut, santri mempelajari tahapan pembuatan tempe sekaligus melakukan pengamatan terhadap hasil akhirnya. Mereka memperhatikan perubahan bentuk, tekstur, aroma, warna, serta karakteristik tempe setelah melalui proses fermentasi.
Tidak hanya itu, santri juga diajak mengenal kandungan gizi tempe sebagai salah satu produk olahan kedelai. Tempe dikenal sebagai sumber protein nabati, serta mengandung serat, vitamin, mineral, dan berbagai komponen lain yang berkaitan dengan proses fermentasi kedelai.
Bagi santri, kegiatan ini memberikan pengalaman bahwa pembelajaran tidak hanya berhenti pada teori yang tertulis di buku. Kedelai yang awalnya menjadi bahan praktik, berubah menjadi objek penelitian sederhana yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut juga melatih santri untuk lebih teliti dalam mengamati sebuah proses. Mereka belajar mencatat, membandingkan hasil pengamatan, mendiskusikan temuan, serta memahami bahwa sebuah produk pangan memiliki proses panjang sebelum akhirnya dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan.
Kepala MA Darul Ma'arif NU Rejang Lebong, Dedi Priyanto, S.E., M.E.Gr., menyampaikan bahwa kegiatan praktik seperti ini menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman belajar kepada santri.
"Santri perlu mendapatkan pengalaman belajar yang tidak hanya bersifat teori. Ketika mereka membuat tempe, kemudian mengamati dan mempelajari kandungannya, mereka belajar menghubungkan ilmu dengan praktik. Dari sini tumbuh rasa ingin tahu, ketelitian, keterampilan, dan keberanian untuk mengembangkan sesuatu menjadi lebih bermanfaat," ungkap Dedi Priyanto.
Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik juga dapat membuka wawasan santri terhadap potensi usaha dan pengembangan produk pangan. Tempe yang selama ini dikenal sebagai makanan sehari-hari dapat dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, mulai dari proses produksi, kandungan gizi, hingga peluang pengembangan produk.
Suasana praktik pun menjadi pengalaman tersendiri bagi para santri. Mereka tidak sekadar membuat produk untuk kemudian selesai, tetapi diajak bertanya, mengamati, meneliti, dan menarik pembelajaran dari apa yang mereka kerjakan sendiri.
(De/Edwinsya)Hastag : #MADarulMaarifNU #SantriProduktif #PraktikSantri #PembuatanTempe #PenelitianSantri
From : MA Darul Maarif NU


.jpg)
