Bukan Sekadar Membaca, MTsN 2 Rejang Lebong Jadwalkan Literasi Kelas 7 di Perpustakaan
Rejang Lebong, (Humas) — Budaya literasi di madrasah tidak selalu harus dimulai melalui kegiatan besar. Di MTsN 2 Rejang Lebong, pembiasaan membaca dibangun melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara terjadwal. Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan murid dengan buku sekaligus menghidupkan fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar.
Hal tersebut disampaikan Guru Bahasa Indonesia MTsN 2 Rejang Lebong, M. Ali Saputra, S.Pd., saat diwawancarai Tim Humas MTsN 2 Rejang Lebong pada Sabtu, (26/9). Dalam wawancara tersebut, Ali menceritakan program pembiasaan literasi yang telah dilaksanakan secara terjadwal bagi murid kelas 7 di perpustakaan madrasah.
Menurut Ali, kegiatan tersebut dirancang agar membaca tidak hanya dilakukan ketika murid mendapatkan tugas dari guru. Dengan adanya jadwal khusus, murid diberikan ruang untuk berinteraksi langsung dengan buku dan membangun kebiasaan membaca secara perlahan.
“Program ini kami arahkan sebagai pembiasaan. Jadi, murid memiliki waktu yang memang disediakan untuk membaca di perpustakaan. Harapannya, mereka tidak memandang membaca hanya sebagai kewajiban ketika ada tugas, tetapi mulai menjadikannya sebagai kebiasaan,” jelas Ali.
Dalam pelaksanaannya, murid kelas 7 diarahkan untuk memanfaatkan koleksi bacaan yang tersedia di perpustakaan. Kegiatan tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal bacaan yang beragam dan memperluas pengalaman belajar di luar buku pelajaran.
Ali menjelaskan bahwa pembiasaan literasi sejak kelas 7 dipandang penting karena murid berada pada tahap awal mereka memasuki jenjang madrasah tsanawiyah. Kebiasaan yang dibangun sejak awal diharapkan dapat terus dilanjutkan pada kelas-kelas berikutnya.
Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Wawan Herianto, S.Pd., MM., melalui Kepala Perpus. Khairul Anwar, M.Pd., menyampaikan bahwa pembentukan budaya literasi membutuhkan proses yang konsisten.
“Literasi tidak bisa dibangun hanya dengan satu kegiatan. Yang kita butuhkan adalah pembiasaan yang dilakukan terus-menerus. Ketika murid diberikan jadwal untuk membaca dan menggunakan perpustakaan, sebenarnya kita sedang membangun kebiasaan belajar yang akan mereka bawa dalam proses pendidikan berikutnya,” ungkap Khairul.
Ia juga menilai keberadaan perpustakaan perlu dimanfaatkan secara aktif sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran madrasah.
“Perpustakaan harus hidup. Artinya, bukan hanya ada buku dan ruangan, tetapi ada murid yang datang, membaca, mencari informasi, dan mendapatkan pengalaman belajar di sana,” lanjutnya.
Program pembiasaan literasi tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian MTsN 2 Rejang Lebong terhadap pengembangan kemampuan membaca dan budaya belajar murid. Melalui kegiatan yang terjadwal, murid kelas 7 tidak hanya diarahkan untuk membaca, tetapi juga dibiasakan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia di lingkungan madrasah.
Hasil wawancara Tim Humas bersama guru Bahasa Indonesia tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penguatan literasi di MTsN 2 Rejang Lebong dilakukan melalui langkah yang sederhana dan berkelanjutan: menyediakan waktu, menyediakan ruang, dan membiasakan murid untuk membaca.
Dengan pembiasaan tersebut, perpustakaan diharapkan semakin menjadi bagian dari keseharian murid, sementara budaya membaca dapat tumbuh secara bertahap dari kelas 7 dan berkembang menjadi kebiasaan belajar yang melekat di lingkungan madrasah.
(Ririn/Edwinsya)Hastag : #kemenagrejanglebong #mtsn2rejanglebong
From : MTsN 2



.jpg)