MTsN 2 Rejang Lebong Rancang Hari Bahasa, Tiga Bahasa Akan Jadi Budaya Madrasah
Rejang Lebong, (Humas) — MTsN 2 Rejang Lebong mulai merancang program pembiasaan bahasa sebagai bagian dari penguatan budaya bilingual di lingkungan madrasah. Perencanaan tersebut dibahas pada Jumat (25/9) di ruang Wakil Kepala Madrasah dengan melibatkan guru Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris.
Diskusi tersebut diikuti oleh Guru Bahasa Indonesia M. Ali Saputra, S.Pd., Guru Bahasa Arab Fitria Sandora, S.Pd., Gr., serta Guru Bahasa Inggris Rahayu Nengsih, S.Pd.I., Gr. Ketiganya berdiskusi mengenai bentuk kegiatan, pembiasaan, serta teknis penerapan program bahasa yang direncanakan mulai diberlakukan pada semester genap Tahun Ajaran 2026/2027.
Salah satu gagasan yang dirancang adalah penerapan hari bahasa, yaitu hari-hari tertentu yang akan mewajibkan murid menggunakan bahasa yang telah ditentukan dalam aktivitas keseharian di lingkungan madrasah. Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris akan mendapat ruang penggunaan sesuai dengan jadwal yang nantinya ditetapkan.
Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Wawan Herianto, S.Pd., MM., menyampaikan bahwa program tersebut dirancang agar kemampuan berbahasa tidak hanya berkembang melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari.
“Kalau bahasa hanya dipelajari di dalam kelas, ruang praktiknya menjadi terbatas. Kita ingin bahasa hadir dalam keseharian murid, sehingga mereka terbiasa mendengar, memahami, dan mencoba menggunakannya dalam komunikasi,” ujar Wawan.
Selain penerapan hari bahasa, madrasah juga merancang pembiasaan berupa penempelan mufrodat dan kosakata pada berbagai benda yang terdapat di lingkungan madrasah. Benda-benda yang sehari-hari ditemui murid akan diberi keterangan kosakata, sehingga lingkungan madrasah dapat menjadi media belajar bahasa yang dapat diakses kapan saja.
Fitria Sandora, S.Pd., Gr. menjelaskan bahwa keberadaan mufrodat di lingkungan madrasah diharapkan dapat membantu murid mengenali kosakata Bahasa Arab secara berulang.
“Ketika kosakata ditempatkan pada benda yang memang mereka lihat setiap hari, murid akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Harapannya, kosakata tersebut tidak hanya diingat ketika pembelajaran berlangsung, tetapi juga terbiasa digunakan,” jelas Fitria.
Hal senada disampaikan M. Ali Saputra, S.Pd. dan Rahayu Nengsih, S.Pd.I., Gr. dalam pembahasan program. Ketiga guru mata pelajaran bahasa tersebut akan menyusun bentuk pembiasaan yang dapat diterapkan secara bertahap dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan madrasah.
Menurut Wawan, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya madrasah membangun ekosistem kebahasaan. Murid tidak hanya diarahkan untuk mengetahui teori bahasa, tetapi juga mendapatkan ruang untuk mempraktikkannya melalui interaksi dengan guru, teman, maupun lingkungan sekitar.
“Target kita bukan sekadar membuat program yang tertulis, tetapi membangun kebiasaan. Karena itu, program harus sederhana, konsisten, dan dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di madrasah,” tegasnya.
Rancangan program bahasa tersebut selanjutnya akan dimatangkan sebelum diterapkan pada semester genap Tahun Ajaran 2026/2027. Dengan adanya hari bahasa, pembiasaan kosakata, dan pemanfaatan lingkungan sebagai media belajar, MTsN 2 Rejang Lebong berupaya memperkuat program bilingual madrasah sekaligus membangun budaya komunikasi yang mendukung penguasaan Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
(Ririn/Edwinsya)Hastag : #kemenagrejanglebong #mtsn2rejanglebong
From : MTsN 2



.jpg)