Tak Gunakan Android, STS Bahasa Arab MTsN 2 Rejang Lebong Uji Kemampuan Tashrif Lughawi
Rejang Lebong, (Humas) — Pelaksanaan Sumatif Tengah Semester (STS) Ganjil Tahun Pelajaran 2026/2027 di MTsN 2 Rejang Lebong tidak seluruhnya menggunakan perangkat Android. Pada mata pelajaran Bahasa Arab, guru memilih bentuk asesmen yang secara langsung menguji kemampuan murid dalam memahami dan menerapkan tashrif lughawi fi’il madhi.
Hal tersebut disampaikan oleh Guru Bahasa Arab MTsN 2 Rejang Lebong, Fitria Sandora, S.Pd., Gr., kepada Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Wawan Herianto, S.Pd., MM., pada Jumat (25/9) di ruang Tata Usaha.
Fitria menjelaskan bahwa STS Bahasa Arab dilaksanakan tanpa menggunakan Android. Murid diberikan tugas untuk membuat tashrif lughawi fi’il madhi, yaitu perubahan bentuk kata kerja lampau berdasarkan kata ganti pelakunya atau dhamir.
“Tashrif lughawi fi’il madhi merupakan perubahan bentuk kata kerja lampau berdasarkan dhamir atau kata ganti pelakunya. Jadi, murid tidak hanya dituntut mengetahui arti sebuah kata, tetapi juga memahami bagaimana bentuk kata tersebut berubah sesuai dengan pelakunya,” jelas Fitria.
Bentuk asesmen tersebut memberikan kesempatan kepada murid untuk menunjukkan pemahaman secara langsung terhadap pola perubahan kata dalam Bahasa Arab. Kemampuan mengingat pola sekaligus menerapkannya menjadi bagian yang diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian.
Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Wawan Herianto, S.Pd., MM., mengapresiasi penggunaan bentuk asesmen yang disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran.
“Teknologi merupakan sarana pembelajaran dan asesmen, tetapi tidak semua kompetensi harus selalu diukur melalui perangkat digital. Ada materi tertentu yang justru perlu ditunjukkan melalui kemampuan menulis, mengingat pola, dan menerapkannya secara langsung,” ujar Wawan.
Menurutnya, variasi dalam asesmen diperlukan agar penilaian benar-benar dapat menggambarkan kemampuan yang ingin diukur.
“Yang terpenting bukan apakah ujiannya menggunakan Android atau tidak, tetapi apakah bentuk penilaiannya sesuai dengan kompetensi yang hendak dilihat. Dalam Bahasa Arab, kemampuan tashrif merupakan salah satu dasar yang perlu dikuasai murid,” lanjutnya.
Pelaksanaan STS Bahasa Arab dengan materi tashrif lughawi fi’il madhi sekaligus menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi di madrasah tetap dapat berjalan berdampingan dengan metode asesmen konvensional. Penggunaan perangkat digital dapat diterapkan ketika sesuai dengan kebutuhan, sementara kemampuan dasar seperti menulis dan menerapkan kaidah bahasa tetap diberikan ruang dalam proses penilaian.
Dengan demikian, pelaksanaan STS di MTsN 2 Rejang Lebong tidak hanya berorientasi pada penyelesaian soal, tetapi juga diarahkan untuk mengukur kompetensi murid melalui bentuk penilaian yang relevan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran.
(Ririn/Edwinsya)Hastag : #kemenagrejanglebong #mtsn2rejanglebong
From : MTsN 2



.jpg)