Bukan Sekadar Dokumen, MTsN 2 Rejang Lebong Siapkan Akreditasi Berbasis Realita Madrasah
Rejang Lebong, (Humas) — MTsN 2 Rejang Lebong mulai mempersiapkan pelaksanaan akreditasi madrasah tahun 2027. Persiapan tersebut ditandai dengan pengarahan Kepala Madrasah Wawan Herianto, S.Pd., MM., kepada Tim Akreditasi Madrasah di Ruang Tata Usaha, Jumat (25/9).
Pengarahan tersebut diikuti oleh Tim Akreditasi yang diketuai Azizah, S.Pd., Gr. Dalam arahannya, Kepala Madrasah menyampaikan bahwa persiapan perlu dilakukan sejak dini mengingat terdapat sejumlah perubahan dalam sistem akreditasi yang perlu dipahami dan disesuaikan oleh madrasah.
Wawan menekankan bahwa persiapan akreditasi tidak boleh hanya berfokus pada kelengkapan dokumen. Apa yang tertulis dalam dokumen harus memiliki kesesuaian dengan kondisi dan praktik yang benar-benar dilaksanakan di madrasah.
“Kita tidak menyiapkan akreditasi hanya ketika waktunya sudah dekat. Mulai sekarang kita benahi apa yang memang perlu diperbaiki. Yang paling penting adalah apa yang kita tulis sesuai dengan apa yang benar-benar kita laksanakan,” ujar Wawan.
Salah satu perhatian utama adalah Rapot Pendidikan. Data dan rekomendasi yang terdapat dalam Rapot Pendidikan perlu menjadi bahan evaluasi dan segera ditindaklanjuti melalui program perbaikan yang relevan.
Selain itu, perangkat pembelajaran juga menjadi perhatian. Guru diharapkan menggunakan perangkat yang telah direvisi dan benar-benar menggambarkan pembelajaran yang akan dilaksanakan, bukan sekadar hasil salin-tempel dari perangkat lain.
“Perangkat pembelajaran harus menjadi gambaran pembelajaran yang sebenarnya. Jangan sampai perangkatnya bagus, tetapi ketika masuk kelas apa yang dilakukan berbeda. Kita harus memastikan keduanya selaras,” jelas Wawan.
Aspek lain yang dibahas adalah keterlibatan komite dan wali murid, khususnya dalam mendukung program madrasah ramah anak. Keterlibatan orang tua dan komite diharapkan dapat terlihat dalam pelaksanaan program, bukan hanya tercantum dalam dokumen.
Dalam aspek pembelajaran, tim juga diarahkan untuk mempersiapkan kemungkinan kunjungan kelas secara acak. Observasi pembelajaran direncanakan berlangsung selama sekitar 20 menit, sehingga guru perlu memastikan kegiatan pembelajaran memiliki pemantik yang jelas dan sesuai dengan perangkat pembelajaran yang digunakan.
Kesesuaian antara RPP atau perangkat pembelajaran dengan praktik nyata di kelas menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Apa yang tercantum dalam perencanaan harus dapat ditemukan dalam proses pembelajaran yang berlangsung.
Evaluasi hasil belajar juga menjadi bagian yang ditekankan. Hasil ulangan harian murid perlu terdokumentasi dengan baik dan diketahui oleh orang tua, sehingga proses evaluasi pembelajaran tidak berhenti pada pemberian nilai, tetapi menjadi bagian dari komunikasi perkembangan belajar murid.
Tim juga diarahkan memastikan tata tertib murid telah disusun dengan poin-poin yang jelas dan telah dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari di madrasah.
Wawan menjelaskan bahwa penilaian akreditasi pada dasarnya akan melihat kesesuaian antara informasi yang dimasukkan melalui aplikasi dengan kondisi nyata yang ditemukan.
“Kita harus memahami bahwa yang dinilai bukan sekadar apa yang kita input di aplikasi. Nanti akan dilihat kesesuaian antara ekspektasi yang kita tuliskan dengan realita yang ada di madrasah,” ungkapnya.
Hal serupa juga berlaku pada program kokurikuler. Program yang tercantum dalam modul harus sesuai dengan kegiatan yang benar-benar dilaksanakan. Output atau hasil kegiatan kokurikuler juga perlu terlihat dan dapat dibuktikan.
Menurut Wawan, delapan aspek tersebut perlu dipersiapkan secara bertahap agar seluruh tim memiliki pemahaman yang sama mengenai arah persiapan akreditasi.
“Kita punya waktu untuk mempersiapkan semuanya. Jangan menunggu sampai menjelang visitasi. Mulai dari Rapot Pendidikan, pembelajaran, keterlibatan orang tua, tata tertib, evaluasi hasil belajar, sampai kokurikuler, semuanya kita benahi sesuai kondisi nyata,” tegasnya.
Ketua Tim Akreditasi Azizah, S.Pd., Gr., bersama anggota tim selanjutnya akan menindaklanjuti arahan tersebut melalui pemetaan kebutuhan dan pembenahan pada setiap komponen yang menjadi perhatian.
Persiapan sejak dini diharapkan membuat MTsN 2 Rejang Lebong lebih siap menghadapi sistem akreditasi tahun 2027, dengan menempatkan budaya mutu dan kesesuaian antara dokumen dengan praktik sebagai bagian utama dari persiapan.
(Ririn/Edwinsya)Hastag : #kemenagrejanglebong #mtsn2rejanglebong
From : MTsN 2



.jpg)