Kopi Hitam, Konten Keagamaan, dan Misi Syiar: Irjuwanda Gerakkan Dakwah Digital KUA SBU
Rejang Lebong (Humas) – Satu layar, sejuta jangkauan. Begitulah wajah syiar Islam di era digital. Tak perlu menunggu jamaah berkumpul di masjid, majelis, atau aula, pesan-pesan kebaikan kini dapat hadir langsung di genggaman masyarakat. Semangat itulah yang ditangkap Irjuwanda, Penata Layanan Operasional (OLO) KUA Kecamatan Sindang Beliti Ulu, dengan menggarap konten keagamaan untuk akun TikTok KUA Sindang Beliti Ulu.
Kamis (24/9) pukul 07.35 WIB s.d. selesai, suasana ruang pengadministrasian KUA Sindang Beliti Ulu tampak berbeda. Di tengah rutinitas pekerjaan, Irjuwanda justru sibuk meramu, mengedit, dan memoles konten keagamaan agar siap dibagikan ke ruang digital. Secangkir kopi hitam khas Bukit Barisan Beliti Ahe menjadi teman sederhana dalam proses kreatif tersebut.
Bagi Irjuwanda, aktivitas membuat konten keagamaan bukan sekadar mengikuti tren di kalangan ASN Kementerian Agama. Ada misi yang jauh lebih besar: menjadikan media sosial sebagai pintu masuk syiar Islam yang mudah, dekat, dan mampu menjangkau masyarakat lintas usia serta latar belakang.
“Ini bukan sekadar mencari tren. Kita ingin memanfaatkan TikTok sebagai ruang syiar. Masyarakat tidak harus dikumpulkan di satu tempat untuk menerima pesan keagamaan. Cukup melalui gawai, pesan kebaikan bisa hadir dan menjangkau mereka di mana pun berada,” ungkap Irjuwanda.
Menurutnya, tantangan dakwah di era digital bukan hanya bagaimana menyampaikan pesan yang benar, tetapi juga bagaimana mengemasnya agar menarik perhatian tanpa kehilangan substansi. Karena itu, proses editing menjadi bagian penting dalam menghadirkan konten yang singkat, komunikatif, kreatif, dan tetap bernilai edukasi keagamaan.
Dari ruang administrasi menuju ruang digital, dari secangkir kopi menuju ide syiar. Aktivitas sederhana Irjuwanda tersebut menjadi gambaran bahwa tugas pelayanan KUA dapat berkembang mengikuti perubahan zaman.
TikTok yang selama ini identik dengan hiburan dapat pula dimanfaatkan sebagai media edukasi dan dakwah. Melalui konten yang dikemas secara kreatif, informasi seputar kehidupan beragama, keluarga, pernikahan, akhlak, dan pesan-pesan kebaikan dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ikhtiar tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa digitalisasi bukan sekadar soal teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk memperluas manfaat. Ketika sebuah pesan keagamaan mampu menembus ruang dan waktu melalui satu unggahan, maka media sosial dapat berubah menjadi sebuah mimbar digital yang tidak mengenal batas tempat.
(eri/Edwinsya)Hastag : Kemenagrejanglebong Kuasindangbelitiulu
From : KUA S. Beliti Ulu



