Guru Madrasah Aliyah Darul Maarif NU Mulai Koreksi Hasil Belajar, Jadikan Data Asesmen sebagai Peta Perkembangan Belajar Santri
Rejang Lebong, (Humas) — Setelah pelaksanaan Sumatif Tengah Semester (STS) Ganjil, para guru Madrasah Aliyah Darul Ma’arif NU Rejang Lebong mulai melakukan koreksi sekaligus pengolahan hasil evaluasi belajar para santri. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan capaian pembelajaran santri sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi guru dalam menentukan langkah pembelajaran selanjutnya, (23/9).
Kegiatan koreksi tidak hanya diarahkan untuk memperoleh nilai akhir santri. Setiap hasil pekerjaan santri diperhatikan dan diolah untuk mendapatkan gambaran capaian pembelajaran secara lebih terukur. Hasil tersebut kemudian dipersiapkan dalam bentuk persentase hasil asesmen, sehingga perkembangan belajar dapat dilihat secara lebih jelas, baik secara individu maupun berdasarkan mata pelajaran.
Melalui pengolahan data tersebut, guru dapat mengetahui sejauh mana materi yang telah diberikan dapat dipahami oleh santri. Persentase capaian juga dapat menjadi gambaran awal untuk melihat materi yang telah dikuasai dengan baik serta materi yang masih membutuhkan penguatan.
Wakil Kepala Bidang Kurikulum MA Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, Dwi Ayu Wulandari, M.Pd.Gr., menyampaikan bahwa proses setelah STS sama pentingnya dengan pelaksanaan asesmen itu sendiri. Menurutnya, hasil evaluasi perlu diolah dan dibaca secara cermat agar tidak hanya berhenti sebagai angka dalam lembar penilaian.
“Hasil STS ini bukan hanya tentang berapa nilai yang diperoleh santri. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membaca data tersebut untuk mengetahui perkembangan mereka. Dari persentase capaian, guru bisa melihat materi mana yang sudah dipahami dan mana yang masih perlu diperkuat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengolahan hasil asesmen juga menjadi bagian dari refleksi guru terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung.
“Data hasil asesmen dapat menjadi bahan bagi guru untuk melakukan evaluasi terhadap pembelajaran. Jika ada capaian yang masih rendah, tentu perlu kita lihat kembali faktor dan materinya, kemudian menentukan tindak lanjut yang sesuai, apakah melalui penguatan materi, pendampingan, latihan tambahan, atau remedial,” lanjutnya.
Salah seorang guru mata pelajaran di MA Darul Ma’arif NU Rejang Lebong turut menyampaikan bahwa proses mengoreksi hasil STS memberikan kesempatan bagi guru untuk melihat kemampuan santri secara lebih dekat.
“Saat mengoreksi, kita tidak hanya melihat benar atau salahnya jawaban. Dari pekerjaan santri, kita bisa melihat bagian materi yang sudah mereka pahami dan bagian mana yang masih mengalami kesulitan. Karena itu, hasil koreksi ini sangat membantu kami untuk menentukan pembelajaran berikutnya,” tuturnya.
Menurutnya, penyajian hasil dalam bentuk persentase akan memudahkan guru dalam membaca kecenderungan capaian belajar santri. Data tersebut juga dapat menjadi bahan komunikasi dan evaluasi bersama dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah.
“Kami berharap hasil STS ini menjadi bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran, bukan sekadar menjadi angka di rapor. Ketika kita mengetahui kondisi capaian santri, kita bisa lebih tepat dalam memberikan penguatan dan pendampingan,” tambahnya.
Pengolahan hasil STS menjadi bagian dari upaya MA Darul Ma’arif NU Rejang Lebong membangun budaya evaluasi yang berbasis data. Hasil asesmen diharapkan dapat membantu guru melihat perkembangan santri secara lebih objektif dan menjadi dasar dalam menyusun langkah pembelajaran berikutnya.
Dengan demikian, proses STS tidak berhenti ketika lembar jawaban selesai dikumpulkan. Koreksi, pengolahan data, analisis capaian, refleksi, dan tindak lanjut menjadi rangkaian yang saling berkaitan dalam memastikan proses pembelajaran terus berkembang.
(De/Edwinsya)Hastag : MADarulMaarifNU #DarulMaarifNU #STS #Asesmen #AsesmenPembelajaran #EvaluasiPembelajaran #KurikulumMadrasah #GuruMadrasah #Santri #PendidikanBerkualitas #RejangLebong
From : MA Darul Maarif NU



