STS Ganjil Selesai, MA Darul Maarif NU Rejang Lebong Jadikan Hasil Evaluasi sebagai Langkah Perbaikan Pembelajaran
Rejang Lebong, (Humas) – Pelaksanaan Sumatif Tengah Semester (STS) Ganjil Tahun Pelajaran 2026/2027 di Madrasah Aliyah Darul Ma’arif NU Rejang Lebong telah selesai dilaksanakan (22/09). Berakhirnya rangkaian STS menjadi momentum bagi madrasah untuk tidak hanya melihat capaian nilai santri, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung selama setengah semester pertama.
Bagi santri, hasil STS menjadi salah satu gambaran sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari. Hasil tersebut diharapkan tidak hanya dilihat sebagai angka, tetapi menjadi bahan refleksi untuk mengetahui kekuatan, kekurangan, serta bagian-bagian pembelajaran yang masih perlu ditingkatkan.
Sementara bagi guru, hasil STS menjadi bahan untuk melihat kembali proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari hasil tersebut, guru dapat melakukan pemetaan terhadap materi yang telah dikuasai santri maupun materi yang masih membutuhkan penguatan pada pembelajaran berikutnya.
Kepala Madrasah Aliyah Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, Dedi Priyanto, S.E., M.E.Gr., menyampaikan bahwa STS seharusnya tidak dipahami hanya sebagai kegiatan untuk memperoleh nilai, melainkan sebagai bagian dari proses evaluasi pendidikan secara menyeluruh.
“STS ini jangan kita lihat hanya dari angka atau nilai yang diperoleh santri. Justru dari hasil ini kita bisa melihat bagaimana proses pembelajaran selama setengah semester berjalan. Santri perlu mengevaluasi dirinya, sementara guru juga perlu mengevaluasi proses dan sistem pembelajaran yang sudah dilakukan,” ungkapnya.
Menurutnya, hasil STS dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah pembelajaran pada setengah semester berikutnya. Apabila terdapat materi yang masih belum dipahami secara optimal, maka perlu diberikan penguatan. Begitu pula dengan metode dan pola pembelajaran yang diterapkan, perlu terus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan santri.
“Yang sudah baik kita pertahankan, yang masih kurang kita perbaiki. Jangan sampai setelah STS selesai, kita hanya mengetahui siapa yang nilainya tinggi dan siapa yang nilainya rendah. Yang lebih penting adalah bagaimana hasil itu kita gunakan untuk memperbaiki proses belajar ke depan,” lanjut Kepala Madrasah.
Ia juga mengajak santri untuk tidak menjadikan hasil STS sebagai beban, melainkan sebagai motivasi untuk terus berkembang. Setiap hasil memiliki pelajaran yang dapat digunakan sebagai pijakan untuk meningkatkan kemampuan pada tahap berikutnya.
“Bagi santri, jadikan hasil STS sebagai cermin. Kalau hasilnya sudah baik, pertahankan dan tingkatkan. Kalau masih ada yang belum sesuai harapan, jangan berkecil hati. Itu menjadi tanda bahwa masih ada ruang untuk belajar dan memperbaiki diri,” pesannya.
Setelah pelaksanaan STS, proses pembelajaran di MA Darul Ma’arif NU Rejang Lebong akan kembali dilanjutkan dengan membawa hasil evaluasi tersebut sebagai bahan perbaikan. Guru dan santri diharapkan dapat memanfaatkan sisa waktu pembelajaran pada semester ganjil dengan lebih terarah, sebelum nantinya menghadapi Sumatif Akhir Semester (SAS).
Dengan demikian, STS menjadi bagian dari siklus pembelajaran: belajar, mengukur, mengevaluasi, memperbaiki, dan kembali belajar. Melalui proses tersebut, madrasah terus berupaya membangun budaya pendidikan yang tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga menghargai proses dan mendorong setiap santri untuk terus berkembang.
(De/Edwinsya)Hastag : #MADarulMaarifNU #RejangLebong #STS2026 #STSGanjil #TahunPelajaran20262027
From : MA Darul Maarif NU



