“Jangan Salah Tokok”, Pesan Waka Kesiswaan MTsN 2 Rejang Lebong tentang Mendidik Generasi Masa Kini
Rejang Lebong, (Humas) — Upacara bendera rutin Senin kembali dilaksanakan oleh keluarga besar MTsN 2 Rejang Lebong di lapangan madrasah, Senin (24/8). Pada pelaksanaan kali ini, siswa kelas 7A bertugas sebagai petugas upacara dengan Waka Kesiswaan sekaligus wali kelas 7A, Bapak Jauhari, S.H.I., Gr., bertindak sebagai pembina upacara.
Upacara berlangsung tertib dan khidmat. Para siswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sikap disiplin, mulai dari persiapan barisan, pengibaran bendera Merah Putih, pembacaan teks Pancasila, hingga penyampaian amanat pembina upacara.
Dalam amanatnya, Jauhari menyampaikan pesan yang cukup mendalam mengenai cara mendidik anak melalui perumpamaan seorang pandai besi yang menempa besi. Menurutnya, besi yang ingin dibentuk menjadi sesuatu yang bernilai harus melalui proses pemanasan dan pukulan atau ditempa.
Namun, proses menempa tidak dapat dilakukan sembarangan. Jika pukulan yang diberikan tidak tepat, besi yang sedang dibentuk justru dapat mengalami kerusakan bahkan patah.
“Kalau kita ingin membentuk besi, besi itu harus dipanaskan dan kemudian ditokok atau ditempa. Tetapi ada kalanya salah tokok, terlalu keras atau tidak tepat, sehingga besinya bisa patah,” disampaikan Jauhari dalam amanatnya.
Perumpamaan tersebut kemudian dikaitkan dengan proses mendidik anak. Menurutnya, anak memang membutuhkan arahan, aturan, disiplin, dan ketegasan. Namun, cara mendidik harus disesuaikan dengan kondisi, karakter, dan perkembangan anak.
Anak bukanlah besi yang dapat ditempa dengan satu cara yang sama. Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendidik maupun orang tua perlu memahami kapan harus tegas, kapan harus memberikan ruang, dan kapan harus memberikan dukungan serta pendekatan yang lebih lembut.
Jauhari juga mengingatkan bahwa perkembangan zaman telah membawa perubahan besar dalam kehidupan anak-anak. Generasi saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi, media sosial, dan arus informasi yang sangat cepat. Kondisi tersebut menuntut orang tua dan guru untuk mampu menyesuaikan pendekatan pendidikan tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan karakter.
“Anak-anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita dahulu. Maka cara mendidiknya juga harus menyesuaikan zaman. Bukan berarti semua boleh, tetapi kita harus memahami dunia mereka agar nasihat yang kita berikan dapat diterima,” pesannya.
Ia mengingatkan para siswa agar tidak menjadikan perkembangan zaman sebagai alasan untuk kehilangan arah. Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk hal-hal positif, bukan menjadi pintu masuk bagi perilaku yang merugikan diri sendiri.
Kepada para siswa, Jauhari berpesan agar mereka mampu menjaga sikap, memilih pergaulan, menghormati orang tua dan guru, serta menggunakan teknologi secara bijak.
“Kalian hidup di zaman yang penuh tantangan. Banyak hal yang bisa kalian lihat dan ikuti. Karena itu, kalian harus pandai memilih. Jangan semua yang viral diikuti, jangan semua yang dilihat ditiru. Gunakan akal dan hati sebelum mengambil keputusan,” ujarnya.
Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Bapak Wawan Herianto, S.Pd., MM., mengapresiasi amanat yang disampaikan dalam upacara tersebut. Menurutnya, pendidikan karakter membutuhkan proses yang panjang dan pendekatan yang tepat.
“Mendidik anak memang membutuhkan kesabaran dan pemahaman. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Tugas kita bukan hanya memberikan aturan, tetapi juga memahami mereka dan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Wawan.
Ia menambahkan bahwa madrasah memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi perkembangan zaman dengan tetap memiliki karakter dan nilai-nilai yang kuat.
“Anak-anak kita harus mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak boleh kehilangan jati diri. Teknologi harus menjadi alat untuk berkembang, bukan sesuatu yang mengendalikan kehidupan mereka,” tegasnya.
Amanat tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar proses menyampaikan pengetahuan, melainkan proses membentuk manusia secara utuh. Ketegasan diperlukan, tetapi harus disertai kebijaksanaan. Aturan penting, tetapi harus disampaikan dengan pendekatan yang mendidik.
Melalui kegiatan upacara rutin, MTsN 2 Rejang Lebong terus menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, nasionalisme, dan karakter kepada peserta didik.
Pesan tentang “jangan salah tokok” menjadi refleksi bahwa setiap anak membutuhkan cara pendidikan yang tepat. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak menjadi “kuat”, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang matang, berkarakter, dan mampu menghadapi zamannya.
(Ririn/Edwinsya)Hastag : #kemenagrejanglebong #mtsn2rejanglebong
From : MTsN 2



