Peringatan 1 Muharam 1448 H di Mushala Roudhatus Shalihin: Mengikis Dosa, Merawat Tradisi Sedekah Bumi
Rejang Lebong (Humas) - Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, Pengajian Al Barokah menggelar pengajian akbar yang berlangsung khidmat di Mushala Roudhatus Shalihin, Desa Belitar Muka, pada Ahad malam Senin (21/6). Kegiatan dimulai setelah pelaksanaan salat Magrib berjamaah dan dihadiri oleh masyarakat setempat dengan penuh antusias.
Acara peringatan Tahun Baru Islam tersebut menghadirkan penceramah, Ustadz Melandani yang menyampaikan tausiyah bertema “Dosa-Dosa yang Sering Dilakukan pada Bulan Muharam.” Melalui ceramahnya, jamaah diajak untuk melakukan introspeksi diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta meninggalkan berbagai perbuatan yang dapat mengurangi kemuliaan bulan Muharam sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam.
“Bulan Muharam adalah momentum untuk berhijrah menuju kebaikan. Jangan sampai bulan yang suci ini justru kita nodai dengan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan dosa,” ujar Ustadz Melandani dalam tausiyahnya.
Selain diisi dengan siraman rohani, peringatan Tahun Baru Islam kali ini juga dirangkaikan dengan pelaksanaan Tradisi Sedekah Bumi yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Desa Belitar Muka. Tradisi tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas nikmat, rezeki, serta keselamatan yang diberikan Allah SWT.
Sejak sore hari, warga tampak berdatangan ke mushala dengan membawa nasi dan aneka lauk-pauk dari rumah masing-masing. Makanan tersebut ditempatkan dalam wadah tradisional berbahan daun pisang yang dikenal dengan sebutan takir.
Prosesi Sedekah Bumi berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Seluruh takir yang dibawa warga terlebih dahulu dikumpulkan di area pengajian. Setelah rangkaian tausiyah selesai, makanan tersebut didoakan bersama sebagai ungkapan syukur dan harapan akan keberkahan bagi seluruh masyarakat desa.
Selanjutnya, takir-takir tersebut dibagikan kembali kepada jamaah secara acak. Kegiatan kemudian ditutup dengan kembul bujana atau makan bersama di lingkungan mushala.
Tradisi berbagi dan makan bersama melalui takir yang dibagikan secara acak ini tidak hanya menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menumbuhkan rasa persaudaraan, kebersamaan, serta mengikis sekat sosial di tengah masyarakat. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sepanjang acara hingga kegiatan berakhir dengan tertib, lancar, dan penuh khidmat.
(Septi/Edwinsya)Hastag : KUA SINDANG KELINGI
From : KUA S. Kelingi



