Gerakan Literasi Madrasah “Satu hari satu halaman” hidupkan kembali Minat Baca Siswa Mis Nurul Kamal
Rejang Lebong (Humas) – Rendahnya minat baca siswa menjadi tantangan hampir di setiap sekolah. Namun, hal ini tidak membuat Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mis Nurul Kamal, Bapak Agustori, S.Pd.Gr., berdiam diri. Melalui Gerakan Literasi Madrasah, beliau berupaya menghidupkan kembali denyut nadi buku di lingkungan madrasah. (12/5)
"Sebelumnya perpustakaan hanya ramai saat jam kosong atau menjelang ujian. Rak buku berdebu, minat baca anak-anak sangat rendah," ungkap Agustori saat ditemui di ruang kerjanya.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, sejak awal semester ini MIS Nurul Kamal resmi mencanangkan Gerakan Literasi Madrasah dengan tagline "Satu Hari Satu Halaman".
Program yang digagas Kepala Madrasah ini tidak sekadar imbauan. Beberapa langkah nyata yang telah berjalan antara lain:
1. Pojok Baca di Setiap Kelas – Setiap kelas wajib memiliki sudut baca dengan buku-buku menarik yang merupakan sumbangan dari siswa, guru, dan komite madrasah.
2. 15 Menit Membaca Sebelum KBM – Seluruh siswa dan guru mengawali pelajaran dengan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit. "Biar jadi kebiasaan dulu," kata Agustori.
3. Pagi Literasi – Setiap pagi setelah kegiatan salat duha dan mengaji, jam pertama diisi dengan bedah buku, mendongeng, atau baca puisi. Siswa yang rajin membaca diberi apresiasi berupa penghargaan Bintang Literasi.
4. Guru Jadi Teladan – Para guru wajib terlihat membaca di hadapan siswa. "Kalau gurunya saja tidak memegang buku, bagaimana siswanya mau membaca," tegasnya.
Wali Kelas 1, Ibu Dea Anggi Pratiwi, S.Pd.,Gr., mengaku perubahan mulai terasa. "Anak-anak sekarang berebutan ke pojok baca saat istirahat. Yang biasanya bermain berlarian, sekarang ada yang membawa komik edukasi dan novel islami dari rumah," ujarnya.
Salah satu siswa kelas 1, Zhfran, juga tampak antusias. "Seru, Bu. Ternyata membaca buku tidak terlalu membosankan. Sekarang aku sudah bisa membaca dengan lebih lancar," katanya malu-malu.
Kepala MIS Nurul Kamal menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar agar siswa bisa membaca. "Literasi itu gerbang ilmu. Siswa yang suka membaca akan luas wawasannya, bagus akhlaknya, dan kuat nalarnya. Ini investasi untuk akhirat," jelasnya.
Ke depan, pihak madrasah akan bekerja sama dengan orang tua melalui program "Rumahku Perpustakaanku" serta mendatangkan penulis lokal untuk memotivasi siswa.
Dengan gerakan literasi ini, MIS Nurul Kamal berharap buku tidak lagi sepi. Setiap lembar yang terbuka diharapkan menjadi satu langkah menuju generasi madrasah yang cerdas, kritis, dan berakhlak Qur'ani.Rejang Lebong (Humas) – Rendahnya minat baca siswa masih menjadi tantangan klasik di dunia pendidikan. Namun, kondisi memprihatinkan tersebut tidak membuat Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MIS) Nurul Kamal, Bapak Agustori, S.Pd.Gr., berpangku tangan. Melalui Gerakan Literasi Madrasah yang inovatif, beliau bertekad mengembalikan denyut nadi literasi di lingkungan madrasah.
Sebelum
program ini digulirkan, suasana perpustakaan madrasah terpantau sepi dan kurang
diminati. "Sebelumnya perpustakaan hanya ramai saat jam kosong atau
menjelang ujian. Rak buku berdebu, minat baca anak-anak sangat rendah,"
ungkap Agustori saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Berangkat
dari keprihatinan tersebut, sejak awal semester ini, MIS Nurul Kamal resmi
mencanangkan Gerakan Literasi Madrasah dengan tagline "Satu Hari Satu Halaman." Program ini
tidak sekadar imbauan, melainkan diimplementasikan melalui sejumlah langkah
strategis, antara lain:
1.
Pojok Baca di
Setiap Kelas: Setiap ruang kelas dilengkapi sudut baca dengan koleksi
buku menarik hasil sumbangan dari siswa, guru, dan komite madrasah.
2.
15 Menit Membaca
Sebelum KBM: Seluruh siswa dan guru diwajibkan mengawali kegiatan
belajar mengajar dengan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit. "Biar
jadi kebiasaan dulu," ujar Agustori.
3.
Pagi Literasi: Setiap pagi,
usai pelaksanaan salat duha dan mengaji, jam pertama diisi dengan kegiatan
bedah buku, mendongeng, atau baca puisi. Apresiasi berupa penghargaan Bintang Literasi diberikan kepada siswa yang rajin
membaca.
4.
Guru sebagai
Teladan: Seluruh guru wajib terlihat membaca di hadapan siswa.
"Kalau gurunya saja tidak memegang buku, bagaimana siswanya mau
membaca," tegas Agustori.
Wali
Kelas 1, Ibu Dea Anggi Pratiwi, S.Ag.Gr., mengaku perubahan signifikan
mulai terlihat. "Anak-anak sekarang berebutan ke pojok baca saat
istirahat. Yang biasanya bermain berlarian, sekarang ada yang membawa komik
edukasi dan novel islami dari rumah," ujarnya.
Antusiasme
juga ditunjukkan oleh Zhfran, siswa kelas 1. "Seru, Bu. Ternyata membaca
buku tidak terlalu membosankan. Sekarang aku sudah bisa membaca dengan lebih
lancar," katanya malu-malu.
Kepala
MIS Nurul Kamal menegaskan bahwa gerakan literasi ini memiliki visi jauh ke
depan, melampaui sekadar kemampuan membaca. "Literasi itu gerbang ilmu.
Siswa yang suka membaca akan luas wawasannya, bagus akhlaknya, dan kuat
nalarnya. Ini investasi untuk akhirat," jelasnya.
Ke
depan, pihak madrasah berencana menjalin kerja sama dengan orang tua melalui
program "Rumahku
Perpustakaanku" serta mengundang penulis lokal untuk
memberikan motivasi kepada para siswa. Melalui gerakan literasi ini, MIS Nurul
Kamal berharap buku tidak lagi menjadi benda yang disepi. Setiap lembar yang
terbuka diharapkan menjadi satu langkah nyata menuju terciptanya generasi
madrasah yang cerdas, kritis, dan berakhlak Qur'ani.
Sebelum
program ini digulirkan, suasana perpustakaan madrasah terpantau sepi dan kurang
diminati. "Sebelumnya perpustakaan hanya ramai saat jam kosong atau
menjelang ujian. Rak buku berdebu, minat baca anak-anak sangat rendah,"
ungkap Agustori saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Berangkat
dari keprihatinan tersebut, sejak awal semester ini, MIS Nurul Kamal resmi
mencanangkan Gerakan Literasi Madrasah dengan tagline "Satu Hari Satu Halaman." Program ini
tidak sekadar imbauan, melainkan diimplementasikan melalui sejumlah langkah
strategis, antara lain:
1.
Pojok Baca di
Setiap Kelas: Setiap ruang kelas dilengkapi sudut baca dengan koleksi
buku menarik hasil sumbangan dari siswa, guru, dan komite madrasah.
2.
15 Menit Membaca
Sebelum KBM: Seluruh siswa dan guru diwajibkan mengawali kegiatan
belajar mengajar dengan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit. "Biar
jadi kebiasaan dulu," ujar Agustori.
3.
Pagi Literasi: Setiap pagi,
usai pelaksanaan salat duha dan mengaji, jam pertama diisi dengan kegiatan
bedah buku, mendongeng, atau baca puisi. Apresiasi berupa penghargaan Bintang Literasi diberikan kepada siswa yang rajin
membaca.
4.
Guru sebagai
Teladan: Seluruh guru wajib terlihat membaca di hadapan siswa.
"Kalau gurunya saja tidak memegang buku, bagaimana siswanya mau
membaca," tegas Agustori.
Wali
Kelas 1, Ibu Dea Anggi Pratiwi, S.Ag.Gr., mengaku perubahan signifikan
mulai terlihat. "Anak-anak sekarang berebutan ke pojok baca saat
istirahat. Yang biasanya bermain berlarian, sekarang ada yang membawa komik
edukasi dan novel islami dari rumah," ujarnya.
Antusiasme
juga ditunjukkan oleh Zhfran, siswa kelas 1. "Seru, Bu. Ternyata membaca
buku tidak terlalu membosankan. Sekarang aku sudah bisa membaca dengan lebih
lancar," katanya malu-malu.
Kepala
MIS Nurul Kamal menegaskan bahwa gerakan literasi ini memiliki visi jauh ke
depan, melampaui sekadar kemampuan membaca. "Literasi itu gerbang ilmu.
Siswa yang suka membaca akan luas wawasannya, bagus akhlaknya, dan kuat
nalarnya. Ini investasi untuk akhirat," jelasnya.
Ke
depan, pihak madrasah berencana menjalin kerja sama dengan orang tua melalui
program "Rumahku
Perpustakaanku" serta mengundang penulis lokal untuk
memberikan motivasi kepada para siswa. Melalui gerakan literasi ini, MIS Nurul
Kamal berharap buku tidak lagi menjadi benda yang disepi. Setiap lembar yang
terbuka diharapkan menjadi satu langkah nyata menuju terciptanya generasi
madrasah yang cerdas, kritis, dan berakhlak Qur'ani.
Hastag : Mis Nurul Kamal
From : MIS Nurul Kamal

.jpg)
.jpg)
